Kamis, 17 September 2009

Sorry I Love U

Pagi itu aku berangkat sekolah seperti biasanya. Olahraga jalan kaki merupakan kebiasaanku tiap hari. Ya maklum sekolahku kan tidak terlalu jauh dari rumahku. Tapi kadang-kadang jika ada temanku yang kebetulan lewat ya numpang sekalian deh. He.. he..! tapi ada sesuatu yang membuat perjalananku terhenti. Sosok cowok tampan sedang berdiri di hadapanku. Cowo’ ini bukan cowo’ yang biasa aku lihat di mall atau sejenis cowo’ gaul zaman sekarang. Tapi cowo’ ini benar-benar terlihat dewasa dengan kemeja yang menunjukkan bahwa dia adalah seorang bussines man. Walaupun seleraku tak seperti dia sih, tapi entah kenapa ada sesuatu yang membuatku tertarik padanya.
Dengan bibir sedikit tersungging, dia memberikan senyum pertamanya padaku. “oh my god, bener-bener tembus deh ni perasaan!” kataku dalam hati. Tanpa pikir panjang aku langsung membalasnya dengan senyum terlebarku yang menurutku terlalu berlebihan. “Selamat pagi!” sapanya dengan ramah. “se,, se,, selamat pagi juga!” jawabku dengan sedikit terbata-bata. Itulah awal perkenalanku dengannya. Ternyata dia adalah tetangga baruku. Kita sih ngga’ ngobrol banyak, kan aku harus sekolah juga.
Tak lama kemudian, terdengar bunyi klackson motor. “Icha, ga numpang nih!” sapa pengendara motor itu. Langsung saja aku naik ke atas motornya. Dia adalah teman sekelasku, namanya Dony. Lumayan sering sih aku numpang sama dia. Bisa dibilang Dony adalah sahabatku sejak kecil.
Rasanya sekolah hari ini ngga’ bisa konsentrasi deh. Apa karna si Ferdy ya? Senyum sendiri, ketawa sendiri, suka ngelamun. Ya ampun, kayaknya aku terserang penyakit jatuh cinta deh. “kayaknya hari ini ceria banget!” tanya Dony. “siapa yang ga’ bahagia kalau pagi-pagi udah dapet sarapan yang begitu menyenangkan” jawabku. “oh jadi pagi ini ibu kamu masak pecel lele?” tanya-nya lagi. Dony ngerti banget makanan favoritku. “sekarang udah ada yang lebih menyenangkan daripada makan pecel lele” tambahku. “emang apa’an?” tanya Dony. “menikmati karunia Tuhan yang begitu mengagumkan!” jawabku. Si Dony kayaknya seperti sapi ompong yang kebingungan mendengar jawabanku yang dari tadi ngga’ jelas maksudnya.
Hari ini pokoknya aku pengen banget pulang sekolah cepat. Tapi kok di rumahnya sepi2 aja, ngga’ terlihat ada aktivitas. Sebentar-sebentar aku melihat keluar hanya untuk memastikan kalau pengintaianku ngga’ sampe’ kelewatan. Seminggu ini aku kayak detektif aja. Pokoknya kalah deh acara “Termehek-mehek”. Satu minggu udah berlalu, hasil pengintaianku ngga sia2. Dia adalah seorang SPV di suatu perusahaan yang bergerak di bidang otomotif, umurnya kira-kira 26th. Meskipun terlampau jauh dari umurku tapi yang namanya cinta ngga’ memandang apapun.
Minggu pagi aku jogging di dekat rumah, ngga’ tau kenapa hari ini aku pengen banget lari pagi. Padahal hari libur selalu aku gunakan untuk tidur pulas alias bangun siang. Belum lama berlari hp berdering, oh ternyata Dony yang telp. “kenapa don?” tanyaku. “tumben mau angkat telpku pagi-pagi gini, biasanya alasan masih tidur” jawabnya. Mendengar hal itu aku sedikit emosi tapi sabar aja lah, ngga’ sampe’ buat aku kebakaran jenggot. “udahlah ngga’ pake’ komen ya, emg ada apa sih?” tanyaku ketus. “duh jangan ketus gitu donk, hm.. hm.. aku mau ajak kamu keluar nanti malam!” kata Dony. Tapi perhatianku tiba-tiba teralihkan oleh sosok Ferdy yang waktu itu emang lagi jogging juga. “udah dulu ya Don, ntar aku telp lagi!” jawabku sambil langsung mematikan hp takut-takut kalo’ aku sampe’ kehilangan jejaknya Ferdy.
Walaupun dalam hati kepengen banget nyamperin dia tapi aku tetap menahan langkahku, ya sedikit jaim gitu,,, semenit, dua menit aku menunggu dia, berharap dia dulu yang mendatangiku. Tapi kok kayak orang ilang aku disini menunggunya ga’ jelas gitu, lagian kelihatannya dia ga’ melihat keberadaanku di sini. Ya udah lah daripada lama-lama mendingan aku dulu yang nyamperin dia. Walaupun harus modal tampang badak tapi demi cinta apapun harus dilakukan.
“hai, kok bisa kebetulan ketemu di sini!” sapaku. Dalam hati rasanya ingin ketawa karena smua ini kan aku yang menyengajakannya.
“mas Ferdy hobby jogging juga?”
“ga’ juga sih tapi lagi pengen aja”
“oh, hobby lain selain jogging apa?”
“aku lumayan suka baca...”
“wah kebetulan banget dong, aku juga hobby baca. Malahan aku jd member di Perpusda (Perpustakaan Daerah). Kalo’ mas Ferdy pengen kesana buat lihat-lihat bukunya, bisa aku temenin”
Sepertinya tawaranku itu membuatnya tertarik. Padahal aku jadi member di Perpusda itu cuma pengen lihat-lihat majalah, novel yang lagi up to date tanpa harus beli. He,, he,,
Sorenya aku ke Perpusda dengan mas Ferdy. Ya ampun mimpi apa aku semalam bisa jalan berdua dengannya. Dengan begini kan aku bisa mengamati ketampanan wajahnya itu dengan seksama. Dan hal itu membuatku semakin jatuh cinta padanya.
Di sana dia membaca buku-buku yang berhubungan dengan otomotif. Aku sendiri gonta ganti ambil buku tapi ga’ ada yang sempat aku baca satupun karena niatku emang cuma mau keluar sama mas Ferdy.
Sepertinya hpku berdering deh, ngga enak juga sih sama yang lain. Akhirnya aku keluar sebentar. Si Dony rupanya yang mengganggu acara kencanku.
“aduh Don, bisa ngga’ sih ga’ telp aku sehari ini aja”
“kenapa sih cha? Ga’ biasanya deh kamu kayak gini”
“ya udah, entar malem maen ke rumah aja. Ok!”
Sesampainya di rumah, aku ga’ bisa berhenti untuk memikirkan dia. Ga’ terasa jam menunjukkan pukul 7 malam. “cha, dicari sama Dony!” teriak ibuku dari ruang tamu. Aku keluar kamar menemui Dony di teras rumah.
“sekarang kamu udah sombong ya cha!”
“bukannya gitu Don., tapi akhir2 ini aku lagi ada proyek”
“proyek? Jadi kuli bangunan kamu sekarang?”
“enak aja kalo’ ngomong, aku tuh lagi falling in love tau...”
Mendengar hal itu muka Dony langsung berubah. Dan nada bicaranya pun agak merendah, ngga’ seperti sebelumnya yang sedikit “mbleyer”.
“oh ya? Sama siapa kalo’ boleh tau?”
“aku rasa ini saatnya aku harus jujur sama kamu”
“maksudnya? Kamu ngga lagi bercanda kan? Udah lama sih kita temenan tapi ngga’ ada salahnya kok kalo kita...”
“eits... eits.... jangan dilanjutkan lagi. Di sini aku tegaskan ya! Bahwa aku itu jatuh cinta sama mas Ferdy, tetangga baruku”
Sepetinya lagu milik Olga “hancur hatiku” bisa mewakili perasaan Dony saat itu.
Walaupun hatinya kecewa tapi Dony ngga’ mau memperlihatkan itu padaku. Dia hanya bisa tersenyum mendengar ceritaku tentang Mas Ferdy. Sekitar satu jam kita asyik ngobrol. Tiba-tiba terlihat sebuah mobil melewati depan rumahku. Dan aku tau pemilik mobil itu adalah mas Ferdy. Aku pun menunjukkan kepada Dony, bagaimana mas Ferdy yang aku sukai itu. Tapi saat itu mataku terbelalak, aku ngga’ menyangka akan melihat pemandangan yang menurutku lebih parah daripada penampakan. Dengan tawa riang mas Ferdy keluar dari mobilnya bersama seorang perempuan. Tanpa pikir panjang, aku langsung mendatangi mas Ferdy walupun Dony berusaha keras menghalangiku. “mas Ferdy...!” teriakku.
“ada apa cha? Kok kelihatannya lagi emosi gitu?” tanya mas Ferdy dengan tenang. Rasanya ga’ mungkin aku marah2 ke dia hanya karena saat ini ada seorang cewek lagi bersamanya. Akupun mencari alasan untuk menguatkan hatiku tuk memulai berbicara dengannya. “oh ya mas, buku yang mas pinjam tadi sudah selesai dibaca belum soalnya aku juga mau pinjam buku itu” sungguh alasan yang konyol bagiku. “oh sudah kok, mau pinjam sekarang?”tanya nya ramah. “besok ajalah, kayaknya hari ini mas lagi sibuk” jawabku ketus sambil sesekali melirik ke arah perempuan berjilbab itu. “hampir lupa nih, kenalin ini istri saya. Namanya Anisa, saya baru jemput dari bandara barusan. Soalnya sejak pindah ke sini dia masih ada di Yogyakarta” Jelas mas Ferdy. Betapa hancur hatiku mendengar penjelasan mas Ferdy saat itu. Aku ga’ tahan lagi untuk segera pergi jauh dari sana. Langsung saja ku berlari secepat mungkin yang kubisa. Aku ngga’ perduli baimana keadaan di sana. Yang ku tahu hanyalah berlari dan berlari. Sampai ku terlelah dan ku merasakan pelukan yang begitu hangat dan lekat. Dan kutahu dia adalah Dony.